Menghitung Anugerah Tuhan
1.
Wujud
Cinta Tuhan “Hidup dan Tinggal di muka Bumi tercinta ini”
Manusia,
dapat hidup dan tinggal di Bumi tercinta ini adalah sebuah Anugerah. Anugerah
terbesar dari Tuhan Yang Maha Esa. Di bumi tercinta ini kita semua hidup dengan
ditemani kerja keras “Sang-Mentari” untuk menyinari dan membuat bumi menjadi
terang. Tak luput pula, Bintang malam turut serta dan berperan untuk
menghangatkan malam kita.
Kita
sebagai Makhluk Tuhan yang tidak pernah sendiri, karena Tuhan terlalu menyayangi kita, dengan adanya beberapa
Makhluk hidup lainnya seperti: Beraneka ragam spesies binatang dan beberapa
jenis tumbuhan. Tidak lupa pula kita di beri sumber daya alam yang melimpah
ruah untuk kita nikmati sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.
Namun
terkadang sebagai Penghuni Bumi, kita lebih cenderung membuat kerusakan dan
tidak merawatnya. Kita sebagai manusia yang merasa kuasa akan sumber daya ini,
terlalu serakah pada semuanya yang ada. Namun lagi-lagi, Tuhan tidak marah,
Tuhan tetap membiarkan matahari bersinar, walaupun banyak dari kita yang
mencerca dengan panasnya yang dapat menghitamkan kulit. Anugerah Matahari yang
bersinar tanpa lelah dan tanpa harap.
Begitu
juga dengan cahaya Bintang Malam, yang selalu membuat senyum dimalam kita yang
lelah. Tuhan juga meng-Anugerahkan Bintang malam dengan jutaan kemilaunya.
Tuhan memberikan kenyamanan dan kehangatan di setiap hati yang menatapnya.
Siapa yang dapat menghitung jutaan bintang dilangit??? Begitu juga kita. Siapa
yang sanggup menghitung Anugerah Tuhan untuk kita? mungkin tidak ada yang
sanggup melakukannya?
Tuhan yang Maha Baik, yang mempunyai Cinta untuk
kita Tanpa pernah membatasi, siapa saja yang boleh menikmati Anugerah mentari
dan sinar bintang di malam hari.
2.
Wujud
Cinta Tuhan “Mengenalkan KeanekaRagaman suku Bangsa, Budaya dan Agama”
Selain
wujud cinta Tuhan kepada kita dengan mengizinkan kita hidup dan tinggal di bumi
tercinta ini, kita juga diperkenalkan oleh sebuah keanekaragaman suku bangsa,
budaya hingga Agama, maka dengan itu akan terciptanya rasa saling menghargai
satu sama lain, menghormati dan menyayangi antar sesama.
Bahkan
di Indonesia sendiri terdapat beberapa suku bangsa dengan campuran Etnis
berbeda, budaya yang semakin kaya dan agama yang masing-masing berbeda. Dengan perbedaan
ini adalah sebuah Anugerah dari Sang Pencipta, bukan untuk merasa saling membenarkan?
bukan untuk saling menghina? apalagi untuk saling menyalahkan?
Dengan
menciptakan suasana tenang ketika umat beragama lain sedang beribadah dan
memberikan kesempatan beribadah kepada umat beragama lain, akan menjaga
keanekaragaman beragama menjadi lebih Indah. Bukankah semboyan Bangsa Indonesia
“Bhineka Tunggal Ika” Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bukankah
kita satu bangsa, satu bahasa, satu negara dan satu tanah air tercinta yaitu
Indonesia. Seperti di dalam landasan Pancasila ayat 1-5, berisi:
·
KeTuhanan Yang Maha Esa
·
Kemanusian yang adil
dan Beradab
·
Persatuan Indonesia
·
Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmah kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan
·
Keadilan sosial bagi
seluru rakyat Indonesia
Rasa
“KeTuhanan Yang Maha Esa”diatur dalam Pancasila sila Pertama, tentang
keTuhanan, tentang Keagamaan. Walaupun di Negara kita tercinta terdapat 5 agama
yang berbeda namun Tuhan tidak pernah membeda-bedakan umatnya untuk dicintai
dan di beri kebahagian. Karena sekali lagi, Rasa Cinta Tuhan kepada kita tiada
tara, tidak hanya kepada kita yang berbeda bahkan kepada yang selalu
melupakan-Nya.
3.
Wujud
Cinta Tuhan “Dengan memberi Manusia Akal dan Pikiran”
Kita,
sebagai Manusia yang telah diberi akal dan pikiran, itulah mengapa manusia di
sebut makhluk sempurna, bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya
(Hewan dan Tumbuhan). Karena akal dan pikiran yang membentuk kita sebagai makhluk pembelajar dan
pemikir.
Manusia
selalu belajar mulai dari lahir kedunia, setelah sembilan bulan di kandungan
Ibu, setelah lahir menjadi bayi yang belajar untuk merangkak, berjalan,
berbicara. Setelah agak besar mengenyam pendidikan di sekolah, mulai dari Tk (2
th), Sd (6 th), Smp (3th), Sma (3th), kuliah dengan bergelar sarjana, Master,
Doktor hingga Profesor, semua itu dapat dilalui melalui proses belajar.
Namun
belajar bukan hanya hal-hal yang menyangkut nilai Akademis saja, melainkan
belajar juga dengan memahami segala permasalahan dalam kehidupan dan mencari
kebaikan dalam penyelesaiannya. Karena belajar adalah proses untuk mencari
kebaikan dan dengan belajar akal dan pikiran kita menjadi lebih semakin sering untuk
digunakan dalam mengerjakan hal-hal baik.
Contohnya:
Seorang Dokter melalui pembelajaran dengan proses yang cukup panjang, untuk
mengenali suatu penyakit dan menemukan obat penawarnya. Dokter telah diberi
akal dan pikiran oleh Tuhan dengan membawa mamfaat untuk pasien-pasiennya. Seperti
seorang Petani yang selalu menggunakan akal dan pikirannya yang Tuhan berikan untuk
selalu belajar membaca cuaca untuk tanaman yang sedang dipupuknya, dan belajar
mengetahui musim yang baik untuk hasil panennya kelak.
Atau
seperti nelayan yang berjuang menerjang badai di lautan untuk selalu belajar
memahami keadaan laut saat sedang belayar. Semua itu adalah bentuk belajar
menggunakan akal dan pikiran yang Tuhan berikan kepada kita, Manusia.
4.
Wujud
Cinta Tuhan “Rasa perjuangan dan Kepahlawanan”
Rasa
Cinta Tuhan tanpa batas kepada kita adalah dengan adanya kemerdekaan Bangsa
Indonesia yang sudah merdeka selama 69 tahun. Bukti Cinta Tuhan kepada seluruh
Bangsa Indonesia adalah dengan Pengorbanan Para Pejuang yang rela mengobarkan
jiwa dan raganya demi kemerdekaan Bangsa Indonesia yaitu Pahlawan kemerdekaan. Indonesia
dibangun dengan sekuat tenaga dari Para Pemimpin yang terdahulu, dari semangat
para pemuda-pemudi Bangsa Indonesia yang dengan rela mengesampingkan lengan
baju mereka demi bahu-membahu untuk pembangunan Bangsa Indonesia.
Kita sebagai penerus Bangsa, harus
menjaga apa yang sudah diwariskan para Pahlawan kemerdekaan terhadap Bangsa ini
untuk kebaikan anak-cucu kita nantinya? Sifat keramah-tamahan, sifat
perjuangan, sifat saling membantu, sifat kerja keras, dan semangat untuk
berbuat kebaikan. Semua kebaikan budi pekerti harus diwariskan kepada anak-cucu
dan generasi kita berikutnya, bukan hanya mewariskan dalam hal pembangunan
(Infrastruktur), keccanggihan alat-alat masa depan, tetapi lebih mengkedepankan
kebaikan hati dan budi pekerti yang dapat membuat Bangsa Indonesia dapat
dikenal sebagai Bangsa yang berbudi pekerti luhur.
5.
Wujud
Cinta Tuhan “Rasa saling menyayangi terhadap Sesama”
Semua
rasa yang kita miliki adalah Pemberian Tuhan. Rasa senang dan Bahagia, Rasa
sedih dan kecewa, Rasa gelisah dan takut, maupun Rasa Cinta dan rasa Sayang.
Kita sebagai manusia harus saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
Tuhan yang Maha Baik selain memberika akal dan pikiran, Tuhan pula memberikan
sekeping hati untuk kita.
Sekeping
hati yang penuh dengan Nurani untuk membela yang benar dan berani menolak untuk
berbuat yang tidak jujur.Setiap manusia mempunyai hati yang bersih, namun kita
wajib menjaga sekeping hati itu untuk selalu berkiblat kepada Pemilik Hati yang
sebenarnya. Sekeping hati yang selalu dipenuhi dengan berbagai rasa yang
berbeda.
Contohnya:
Rasa Sabar seorang Guru dalam menyalurkan ilmu untuk murid-muridnya. Rasa Percaya,
Ilmu yang diberikannya dapat bermamfaat untuk murid-muridnya. Rasa
Bahagia,ketika melihat murid-muridnya menjadi orang besar atau pemimpin yang
baik dan jujur, walaupun Jasa seorang guru tanpa balas.
Masih
banyak lagi Anugerah Tuhan untuk kita, namun kita tidak pernah bisa menakar
seberapa banyak Anugerah Tuhan yang telah kita nikmati dan kita miliki….Mungkin
kita sebagai manusia hanya mampu bersyukur atas semua Anugerah Tuhan untuk
kita.
Thanks
God :)
Komentar
Posting Komentar