Awalnya suka membaca dan akhirnya berkeinginan menjadi Penulis
Pertama kali
gue suka menulis, ya karena gue suka membaca. membaca apa saja, baca buku komik, buku
novel bahkan gue suka baca kertas koran bekas bungkus cabe emak gue. Kesukaan
gue membaca makin menjadi-jadi, yang terkadang membuat gue mengkhayal
sendiri dan melanjutkan cerita di dalam buku yang sudah ada endingnya.
Lama-lama ada
tuh keinginan untuk menulis dengan cerita berbeda mulai hadir dalam benak gue.
Namun gue bingung harus mulai dari mana? Sedangkan saat itu gue masih Smp. Gak
berani Nulis buku, akhirnya memberanikan diri gue untuk nulis di mading
(Majalah dinding) sekolah. Itu juga di kolom kirim salam “DU-DU” (Dari-Untuk)
Dari : Someone
Untuk: Kakak
Kelas 2 SMP yang berambut seperti
Nicholas Saputra (Rangga dalam film AADC)
DU: Nanti
istirahat, kita ketemu lagi di Musolah sekolah ya?
Begitulah Romantika
ala-ala anak Smp....!
Begitu
memasuki tingkat menengah atas alias Sma, gue tambah enggak Pede untuk menulis
dan bahkan Impian untuk menjadi seorang “Penulis” hilang begitu saja di
karenakan kata teman-teman gue,“Seorang Penulis
itu, harus 7X lipat lebih pintar daripada pembacanya”
Karena Cukup
menyadari kemampuan otak gue yang biasa-biasa aja, akhirnya secara sengaja, gue
melumpuhkan ingatan, untuk menjadi penulis. Dalam hati gue selalu berkata,
Segala Impian itu harus di barengi kemampuan dan bakat, Dan gue enggak punya
bakat untuk menulis”
Namun
sepulang sekolah ketika gue naik angkutan umum. Gue menemukan stiker di dalam
angkutan umum. Ya, stiker mah memang banyak di mobil-mobil angkot. Tapi di mobil angkot yang gue naikin, bukan
sembarang striker yang terpampang di sana, biasanya gue menemukan stiker-stker
pengobatan tradisional, (Rheumetik, bisul, asam urat, Diabetes, dll) kali
ini gue menemukan striker pencerahan jiwa yang bertuliskan “BAKAT 1% dan KERJA
KERAS 99%”
Seperti di
getok memakai palunya “THOR” gue tersadarkan kembali, yang penting 99% yang
harus gue pakai untuk keberhasilan mendapatkan impian gue sebagai penulis,
karena gue tidak memiliki 1% itu.
Gue pernah
baca buku tentang “Cara menjadi seorang Penulis” Yaitu dengan “Mencoba Menulis
apa saja mulai dari sekarang” Akhirnya gue mulai mencoba dengan menulis apa
saja yang gue pikirkan, rasakan, lalu gue tuangkan lagi kedalam kertas, atau
zaman sekarang kertas elektronik. Mulai dari satu hari, satu halaman.
“Satu hari satu
halaman, 1 bulan dapat 30 halaman, 1 tahun dapat 365 halaman”
Berarti
sebentar lagi, Emak gue, bakal menjadi seorang penulis, karena setiap hari Emak
gue menulis barang-barang yang mau di beli kepasar tradisional, (Cabe-cabean,
bawang merah, bawah putih dan bawang bombay. Tomat-tomatan, sampai
terong-terongan). Catatan belanjaan Emak gue sudah numpuk dan mungkin akan ada
sebuah penerbit yang mau menjadikannya buku dengan judul “Catatan Si Emak”
Dengan
semangat, enggak mau kalah sama Emak sendiri, akhirnya gue pergi ke Toko buku
untuk mencari Inspirasi. Katanya Penulis hebat, Kalau mau jadi penulis,
Pacarnya adalah buku, makanannya juga buku, asal jangan kasurnya aja buku,
(keras, kurang empuk). Akhirnya gue tertarik sebuah buku karangan Arswendo.
Atmiwoloto, dengan judul “mengarang itu gampang”
Berlandaskan
sebuah judul buku itu, gue semakin Pede untuk menulis dan bercita-cita menjadi
seorang Penulis yang berkarya. Akhirnya Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Mendengar
doa hambanya, memberi sebuah jalan untuk memulai kredibilitas gue untuk menjadi
seorang penulis.
Gue dapat job
membuat tulisan karangan teman-teman gue, jadi kita ada tugas membuat karangan
yang berbeda-beda dalam satu gambar. Dan Akhirnya gue berhasil membuat tujuh
judul karangan dalam satu gambar per tiga halaman setiap judulnya. Dan uang pun
mulai berdatangan, (Senangnya). Ternyata menulis itu bisa membuat kita kaya
juga ya. Pikir gue saat Sma. Dan setelah gue lulus Sma, gue ingin profesional
dalam menulis. Itu impian gue!
Namun untuk
menembus pasar penerbitan tidaklah mudah. Hanya karya-karya yang berkualitas yang
dapat di terima pasar. Tapi itu tak membuat diri gue takut untuk memulai terjun
ke dunia penulisan. Apalagi gue sangat menyukai menulis.
Gue suka
menulis. Gue suka bermain dengan kata-kata, gue suka membuat karakter-karakter
tokoh yang berbeda-beda. Gue suka berada di dalam konflik cerita, untuk ikut
terlibat perasaan, menangis bersama sang tokoh, merasakan bahagia karakter yang
telah mencapai impiannya.
Gue suka
bercerita dan itu juga yang membuat gue suka menulis.Menulislah dengan hati,
dan ditambah dengan pemahaman dan pengalaman yang dimiliki dan dipelajari. Belajar terus
menerus. Maka dengan itu kita mampu untuk menulis, membuka cakrawala, dan
membentang dunia dengan kata-kata indah.
Namun untuk
fokus menjadi penulis, bila yang masih baru seperti gue, makin harus banyak
belajar. Belajar membuat Plot yang baik, belajar menciptakan karakter tokoh
yang kuat, belajar membuat pembaca mampu merasakan apa yang di tulis. Dan Masih
banyak lagi yang harus di pelajari.
Dan gue terus
belajar untuk menulis ketika Naskah yang gue buat, harus di kembalikan dengan
sebuah catatan kecil “Maaf, Naskah anda
belum sesuai dengan Visi dan Misi Penerbit Kami” Belajar untuk menerima
penolakan, belajar untuk memahami diri, karena pada saat kita mendapat surat
penolakan, terkadang kita merasa naskah yang sudah kita selesaikan siang dan
malam, termasud dalam sebuah naskah dengan kategori jelek karena tidak bisa di
terbitkan.
Berlajar
untuk berada pada keinginan awal, menjadi sang-penulis. Satu Penolakan yang
kita dapat, tidak akan membuat kita menyerah dan tetap ingin
menjadi mencoba menulis lagi. Lagi dan Lagi!
Ketika kita
tidak percaya diri akan tulisan kita, Pembunuh diam-diam dalam kepala kita
mulai bekerja. Membuat
kita berpikir: Gue enggak mampu menulis, gue enggak akan bisa jadi Penulis. Gue
penulis gagal. Gue enggak di takdirkan lahir sebagai penulis. Pokoknya masih
banyak lagi pikiran-pikiran negatif dalam diri ketika kita memegang surat
penolakan itu.
Terlepas dari
benar atau salah dalam menulis, bagus atau jelek, laris atau tidak. Yang
penting kita mencoba untuk berkarya, karena semakin sering kita menemui
kegagalan, semakin dekat kita dengan keberhasilan. “Kegagalan itu bukan
saat kita salah dan kalah, Tetapi saat kita
benar-benar Menyerah” Siapa sih,
yang mau gagal? Pasti semua orang yang bermukim di bumi hijau ini, ingin
berhasil di setiap langkah yang mereka mulai. Begitu juga dengan “Gue” Gue
ingin berhasil, sukses dan membanggakan setiap orang yang kenal sama gue. Tapi
loe semua harus ingat pepatah yang satu ini. “KEGAGALAN ADALAH KEBERHASILAN YANG
TERTUNDA”
Oke, siapapun
pencipta kata-kata diatas, gue mengucapkan terima kasih banget. Karena kata-kata
itu menjadi Mantra sakti, saat penolakan berkali-kali dari kantor penerbitan.
Namun gue
selalu percaya bahwa kerja keras yang kita keluarkan akan mendapatkan balasan
yang baik. Baik itu tidak datang saat ini, mungkin esok hari.
Berpegang
pada Perjuangan J.K.Rowling,
dengan Novel Harry Potter
yang pada awal penerbitannya banyak penolakan yang dia terima. Bukan hanya
sekali-dua kali, belasan bahkan puluhan kali. Namun kini bukan hanya Novelnya
yang menjadi Best Seller, tetapi filmnya juga sangat di minati hampir di
seluruh dunia.
J.K.Rowling
saja bisa bertahan dengan penolakan yang bertubi-tubi, masa gue baru tiga novel
di tolak saja sudah berhenti, dari hal yang paling gue cintai. Karena gue
sangat mencintai menulis, mungkin gue tidak akan pernah berpikir untuk berhenti
menulis. Karena itu juga punya mantra-mantra sakti diatas.
*****
Yuk semangat, keren nih artikelnya
BalasHapusYuk semangat, keren nih artikelnya
BalasHapusterima kasih mbak Hidayah :)
BalasHapus