KEGAGALAN.....

Siapa sih, yang mau gagal? Pasti semua orang yang bermukim di bumi hijau ini, ingin berhasil di setiap langkah yang mereka mulai. Begitu juga dengan “Gue” Gue ingin berhasil, sukses dan membanggakan setiap orang yang kenal sama gue. Tapi loe semua harus ingat pepatah yang satu ini
“KEGAGALAN ADALAH
KEBERHASILAN YANG TERTUNDA”
Oke, siapapun pencipta kata-kata diatas, gue mengucapkan terima kasih banget. Karena kata-kata itu menjadi Mantra sakti, saat penolakan berkali-kali dari kantor penerbitan.
^^
Pertama kali gue suka menulis, ya karena gue suka baca. Baca apa saja. Baca buku komik, buku novel bahkan gue suka baca kertas koran bekas bungkus cabe emak gue.
Kesukaan gue membaca makin menjadi-jadi,  yang terkadang membuat gue mengkhayal sendiri dan melanjutkan cerita di dalam buku yang sudah ada endingnya.
Lama-lama ada tuh keinginan untuk menulis dengan cerita berbeda mulai hadir dalam benak gue. Namun gue bingung harus mulai dari mana? Sedangkan saat itu gue masih Smp. Gak berani Nulis buku, akhirnya memberanikan diri gue untuk nulis di mading (Majalah dinding) sekolah. Itu juga di kolom kirim salam “DU-DU” (Dari-Untuk)
Dari : Someone
Untuk: Kakak Kelas 2 SMP yang berambut seperti
Nicholas Saputra (Rangga dalam film AADC)
DU: Nanti istirahat, kita ketemu lagi di Musolah sekolah ya?  
Begitulah Romantika ala-ala anak Smp....!
Begitu memasuki tingkat menengah atas alias Sma, gue tambah enggak Pede untuk menulis dan bahkan Impian untuk menjadi seorang “Penulis” hilang begitu saja di karenakan kata teman-teman gue,“Seorang Penulis itu, harus 7X lipat lebih pintar daripada pembacanya”
Karena Cukup menyadari kemampuan otak gue yang biasa-biasa aja, akhirnya secara sengaja, gue melumpuhkan ingatan, untuk menjadi penulis. Dalam hati gue selalu berkata, Segala Impian itu harus di barengi kemampuan dan bakat, Dan gue enggak punya bakat untuk menulis”
Namun sepulang sekolah ketika gue naik angkutan umum. Gue menemukan stiker di dalam angkutan umum. Ya, stiker mah memang banyak di mobil-mobil angkot.
Tapi di mobil angkot yang gue naikin, bukan sembarang striker yang terpampang di sana, biasanya gue menemukan stiker-stker pengobatan tradisional, (Rheumetik, bisul, asam urat, Diabetes, dll)  kali ini gue menemukan striker pencerahan jiwa yang bertuliskan “BAKAT 1% dan KERJA KERAS 99%”
Seperti di getok memakai palunya “THOR” gue tersadarkan kembali, yang penting 99% yang harus gue pakai untuk keberhasilan mendapatkan impian gue sebagai penulis, karena gue tidak memiliki 1% itu.
^^
Gue pernah baca buku tentang “Cara menjadi seorang Penulis” Yaitu dengan “Mencoba Menulis apa saja mulai dari sekarang” Akhirnya gue mulai mencoba dengan menulis apa saja yang gue pikirkan, rasakan, lalu gue tuangkan lagi kedalam kertas, atau zaman sekarang kertas elektronik. Mulai dari satu hari, satu halaman.
“Satu hari satu halaman, 1 bulan dapat 30 halaman,  1 tahun dapat 365 halaman”
Berarti sebentar lagi, Emak gue, bakal menjadi seorang penulis, karena setiap hari Emak gue menulis barang-barang yang mau di beli kepasar tradisional, (Cabe-cabean, bawang merah, bawah putih dan bawang bombay. Tomat-tomatan, sampai terong-terongan). Catatan belanjaan Emak gue sudah numpuk dan mungkin akan ada sebuah penerbit yang mau menjadikannya buku dengan judul “Catatan Si Emak”
Dengan semangat, enggak mau kalah sama Emak sendiri, akhirnya gue pergi ke Toko buku untuk mencari Inspirasi. Katanya Penulis hebat, Kalau mau jadi penulis, Pacarnya adalah buku, makanannya juga buku, asal jangan kasurnya aja buku, (keras, kurang empuk). Akhirnya gue tertarik sebuah buku karangan  Arswendo. Atmiwoloto,
dengan judul “mengarang itu gampang” Berlandaskan sebuah judul buku itu, gue semakin Pede untuk menulis dan bercita-cita menjadi seorang Penulis yang berkarya. Akhirnya Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Mendengar doa hambanya, memberi sebuah jalan untuk memulai kredibilitas gue untuk menjadi seorang penulis.
Gue dapat job membuat tulisan karangan teman-teman gue, jadi kita ada tugas membuat karangan yang berbeda-beda dalam satu gambar. Dan Akhirnya gue berhasil membuat tujuh judul karangan dalam satu gambar per tiga halaman setiap judulnya. Dan uang pun mulai berdatangan, (Senangnya). Ternyata menulis itu bisa membuat kita kaya juga ya. Pikir gue saat Sma. Dan setelah gue lulus Sma, gue ingin profesional dalam menulis. Itu impian gue!
^^
Namun untuk menembus pasar penerbitan tidaklah mudah. Hanya karya-karya yang berkualitas yang dapat di terima pasar. Tapi itu tak membuat diri gue takut untuk memulai terjun ke dunia penulisan. Apalagi gue sangat menyukai menulis.
Gue suka menulis. Gue suka bermain dengan kata-kata, gue suka membuat karakter-karakter tokoh yang berbeda-beda. Gue suka berada di dalam konflik cerita, untuk ikut terlibat perasaan, menangis bersama sang tokoh, merasakan bahagia karakter yang telah mencapai impiannya.
Gue suka bercerita dan itu juga yang membuat gue suka menulis.Menulislah dengan hati, dan ditambah dengan pemahaman yang dimiliki dan dipelajari. Belajar terus menerus.  Maka dengan itu kita mampu untuk menulis, membuka cakrawala, dan membentang dunia dengan kata-kata indah.
Namun untuk fokus menjadi penulis, bila yang masih baru seperti gue, makin harus banyak belajar. Belajar membuat Plot yang baik, belajar menciptakan karakter tokoh yang kuat, belajar membuat pembaca mampu merasakan apa yang di tulis. Dan Masih banyak lagi yang harus di pelajari.  
Dan gue terus belajar untuk menulis ketika Naskah yang gue buat, harus di kembalikan dengan sebuah catatan kecil “Maaf, Naskah anda belum sesuai dengan Visi dan Misi Penerbit Kami”
Belajar untuk menerima penolakan, belajar untuk memahami diri, karena pada saat kita mendapat surat penolakan, terkadang kita merasa naskah yang sudah kita selesaikan siang dan malam, termasud dalam sebuah naskah dengan kategori jelek karena tidak bisa di terbitkan.
Berlajar untuk berada pada keinginan awal, menjadi sang-penulis. Satu Penolakan yang kita dapat,  tidak akan membuat kita menyerah dan tetap  ingin menjadi mencoba menulis lagi. Lagi dan Lagi!
Ketika kita tidak percaya diri akan tulisan kita, Pembunuh diam-diam dalam kepala kita mulai bekerja. Membuat kita berpikir: Gue enggak mampu menulis, gue enggak akan bisa jadi Penulis. Gue penulis gagal. Gue enggak di takdirkan lahir sebagai penulis. Pokoknya masih banyak lagi pikiran-pikiran negatif dalam diri ketika kita memegang surat penolakan itu.
Terlepas dari benar atau salah dalam menulis, bagus atau jelek, laris atau tidak. Yang penting kita mencoba untuk berkarya, karena semakin sering kita menemui kegagalan, semakin dekat kita dengan keberhasilan.
“Kegagalan itu bukan saat kita salah dan kalah
Tetapi saat kita benar-benar Menyerah”
Namun gue selalu percaya bahwa kerja keras yang kita keluarkan akan mendapatkan balasan yang baik. Baik itu tidak datang saat ini, mungkin esok hari.
Berpegang pada Perjuangan J.K.Rowling,  dengan Novel Harry Potter yang pada awal penerbitannya banyak penolakan yang dia terima. Bukan hanya sekali-dua kali, belasan bahkan puluhan kali. Namun kini bukan hanya Novelnya yang menjadi Best Seller, tetapi filmnya juga sangat di minati hampir di seluruh dunia.
J.K.Rowling saja bisa bertahan dengan penolakan yang bertubi-tubi, masa gue baru tiga novel di tolak saja sudah berhenti, dari hal yang paling gue cintai.
Karena gue sangat mencintai menulis, mungkin gue tidak akan pernah berpikir untuk berhenti menulis. Karena itu juga punya mantra-mantra sakti diatas.

Komentar