Wanita-wanita tegar



Patah tulang karena Pohon Mangga

Aku masih bisa tertawa mendengar candaan si Ibu yang ada di hadapanku siang ini. Bagaimana tidak, si Ibu menceritakannya dengan penuh senyum dan di hiasi tawa yang lebar. 
Oke, ceritanya bukan cerita komedi apalagi ala-ala stand up gitu. Ini cerita menyedihkan karena si Ibu sempat di operasi tulang belakang karena berhubungan dengan Mangga. Namun karena gaya cerita si Ibu, kontan kami semua yang mendengarnya tak dapat menahan tawa.
Si Ibu memakai baju seragam coklat, sepertinya Ibu ini berprofesi seorang guru. Yap, benar. Ibu, yang lupa aku tanyakan siapa namanya itu, memang mengajar sebagai guru sd, di sd Muhammadiyah. 

Nah, cerita si Ibu ini di mulai, ketika kita memasuki musim mangga. Musim mangga? Memangnya ada? Bukankah di Negara tercinta ini hanya ada dua musim, kalau tidak musim kemarau, ya, musim hujan. Tapi seiring berjalannya waktu berputar, musim-musim di Indonesia menjadi lebih banyak artinya.
 Musim hujan,menyebabkan masuknya musim banjir. 

Selain itu ada juga musim buah-buahan, seperti musim mangga, musim rambutan, dan musim manggis (asal jangan musim kawin aja, ya, hehheh)

Balik lagi menceritakan Si Ibu yang senyumnya tak pernah lepas menghiasi wajahnya yang mulai beranjak berkerut. Karena lagi musim mangga dan kebetulan dari sejak muda si Ibu ini sudah memiliki pohon mangga di depan halaman rumahnya. Walhasil buah-buah mangga yang mulai menggoda sudah bergelantungan manis di atas pohon. Greaatttttt...!

Dengan jiwa si Ibu yang petualang sejati, tangan-tangan gatal si Ibu mulai beraksi untuk mengambil si hijau pemikat yang sudah matang di pohon. Dengan mengerahkan seluruh ilmu dan tenaga yang di milikinya, si Ibu mulai memanjat pohon. 

Cara memanjatnya pun bukan seperti tarzan yang sedang memanjat pohon kelapa, ya! Tapi menggunakan tangga bambu yang di pasangkan keatas atap rumahnya yang berbahan “Asbes”

Tanpa basa-basi si Ibu mulai memanjat satu demi satu anak tangga beserta emak dan babenya si tangga itu. Walhasil sampai juga diatas asbes. Dan tangan-tangan cantik si Ibu mulai mengambil mangga satu-persatu. Untungnya ada tetangga baik hati di bawah sana yang siap menadah mangga-mangga dari atas pohon.

Namun saking keasyikan si Ibu mengambil mangga dan  berjalan-jalan diatas Asbes, si Ibu mulai lupa bahwa ada yang namanya pinggiran asbes yang tak mampu menopang berat badan si Ibu yang lumayan berbobot.
Pinggiran Asbes pun menjadi pijakan terakhir si Ibu, sebelum tubuh si Ibu mendarat di tanah sejauh tiga meter. (Bayangkan jatuh dari ketinggian tiga meter) dengan hasil mangga setengah karung, Lumayan.
Iya, Lumayan, lumayan patah tulang! 

“Mangga oh mangga, segitu besarnya perjuanganku untuk mendapatkan kamu!” Batin si Ibu

Dan sudah dua tahun ini, si Ibu harus bolak-balik rumah sakit, hanya untuk terapi. Namun sebelumnya sempat di operasi tulang punggung belakang. Ya, namun si Ibu tidak pernah trauma dengan si Buah mangga walaupun sudah membuat kenangan buruk bersamanya.

Malah si Ibu masih mampu tersenyum lebar, dengan menceritakannya. Bagi si Ibu ini pelajaran berharga tentang kecerobohan dan persiapan yang matang untuk mengatur strategi dalam mendapatkannya lagi.

Belajar dari si Ibu yang masih menyukai si Buah mangga yang pernah membuatnya harus di operasi dan terapi berkali-kali. Si Ibu hanya memandang sebuah kejadian dari sudut pandang yang baik. Walaupun dia sakit namun dia masih bersyukur masih bisa sembuh dalam waktu yang cukup lama.

Begitu juga kita, waktu akan mengobati segala luka-luka yang pernah hadir dalam kehidupan. Dan memandang sesuatu dari sudut pandang yang positif. Mungkin itu akan lebih baik dalam menyikapi suatu permasalahan. 

Komentar